Sabtu, 12 September 2009

Tugas Bahan Bangunan BAB II

2.1 Pengertian Agregat

Agregat adalah butiran-butiran mineral yang dicampurkan dengan semen Portland dan air untuk menghasilkan beton. Mutu agregat yang digunakan untuk pembuatan beton akan mempengaruhi kualitas beton baik dalam kondisi plastis maupun dalam kondisi yang telah mengeras karena agregat menempati 60% sampai 70% dari total beton.

2.2 Jenis-Jenis Agregat

2.2.1 Jenis-jenis sgregat berdasarkan berat jenis

a. Agregat ringan

Agregat ringan yaitu agregat yang memiliki berat jenis kurang dari 2,0 dan biasanya digunakan untuk beton non structural. Agregat ini juga dapat digunakan untuk beton structural atau balok dinding tembok.

b. Agregat normal

Agregat normal adalah agregat yang memiliki berat jenis antara 2,5 sampai 2,7. Beton yang menggunakan agregat normal biasanya memiliki berat jenis sekitar 2,3 dengan kuat tekan antara 15 MPa sampai 40 MPa. Beton yang dihasilkan dinamakan beton normal.

c. Agregat berat

Agregat berat memiliki berat jenis lebih dari 2,. Beton yang dihasilkan memiliki berat jenis yang tinggi juga ( dapat sampai 50). Beton jenis ini efektif digunakan sebagai dinding pelindung sinar radiasi sinar X.

2.2.2 Jenis-jenis agregat berdasarkan besar butirannya

Pengukuran berat butir agregat didasarkan atas suatu pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan alat yang berupa ayakan dengan besar lubang yang telah ditetapkan. Ukuran butir agregat tanpa memperhatikan bentuknya didefinisikan sebagai butiran yang dapat lolos pada suatu ukuran ayakan tertentu.

a. Agregat halus

Agregat halus adalah agregat yang semua butirannya menembus ayakan dengan lubang 4,8 mm.

b. Agregat kasar

Agregat kasar adalah agregat dengan butiran-butiran tertinggal di atas ayakan dengan lubang 4,8 mm tetapi lolos ayakan 40 mm.

c. Batu

Batu adalah agregat yang besar butirannya lebih besar dari 40 mm.

2.3 Sifat Fisik Agregat

2.3.1 Penyerapan air dalam agregat

Pori-pori dalam agregat memiliki ukuran yang bervariasi. Pori-pori tersebut menyeber merata di seluruh bagian butiran. Beberapa merupakan pori tertutup dan yang lainnya berupa pori terbuka terhadap permukaan butiran. Prosentase berat air yang mampu diserap oleh agregat jika agregat direndam dalam air sampai jenuh disebut serapan air atau daya serap air pada agregat.

2.3.2 Kadar air dalam agregat

a. Keadaan kering tungku atau kering oven

Yaitu agregat yang benar-benar dalam keadaan kering atau tidak mengandung air. Keadaan ini menyebabkan agregat dapat secara penuh menyerap.

b. Kering udara

Permukaan butir-butir dalam keadaan kering tetapi dalam butiran masih mengandung air.

c. Jenuh permukaan kering

Pada keadaan ini permukaan agregat kering, tetapi butiran butiran agregat jenuh dengan air. Oleh karena itu butiran-butiran dalam keadaan SSD ini tidak menyerap air.

d. Basah

Pada keadaan ini butiran agregat mngendung banyak air baik dalam butiran maupun pada permukaan agregat, sehingga jika dipakai untuk campuran adukan beton penggunaan air harus dikurangi.

2.3.3 Kekuatan dan kekerasan

Kekerasan merupakan lawan dari keausan. Ketahanan terhadap abrasi sering dipakai sebagai indeks secara umum untuk kualitas agregat. Untuk mengetahui kekerasan atau sifat tahan abrasi dengan pengujian berikut, yaitu dengan menggunakan mesin Los Angeles, mesin Rudolf dan mesin Rockwell.

2.3.4 Susunan besar butir (gradasi)

Gradasai yaitu distribusi ukuran butir dari agregat. Bila butiran agregat mempunyai ukuran yang sama, volume pori antar butiran akan menjadi besar. Sebaiknya, jika ukuran butirannya bervariasi maka pori antar butiran akan menjadi kecil karena sebagian pori-pori akan terisi oleh butiran yang lebih kecil.

2.3.5 Kadar organik

Kadar organik akibat arang dan lignit menurut ASTM maksimum 0.5% sampai 1%. Kandungan kadar kimia agregat dapat menimbulkan reaksi alkali silica, reaksi alkali karbonat, dan reaksi sulfat.

2.4 Bahan Perusak Agregat

a. Kelompok fisik

Yang dikategorikan dalam kelompok ini adalah kotoran yang melekat pada agregat misalnya Lumpur, debu, tanag liat, dan kotoran lain. Bahan-bahan tersebut dapat mengurangi kelekatan pada pasta semen ke batuan. Kerena pengaruh buruk tersebut jumlahnya pada agregat tidak boleh lebih dari 5% untuk agregat halus dan 1% untuk agregat kasar.

b. Bahan kimiawi

Agregat yang mengandung garam-garam klorida dan sulfat dapat merusak konstruksi beton yang dibuat menggunakan pasir. Adanya klorida dalam beton akan memberi resiko berkaratnya baja tulangan dalam beton, yang selanjutnya dapat memecahkan beton. Jika hal ini terjadi, maka tulangan dalam beton menjadi tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

blog akademik nih?

Khalifah Khairussufyan mengatakan...

hehe.... mungkin bisa mmbantu....